Loading...

KSM Lirik Selenggarakan Bedah Buku Ronggeng Dukuh Paruk

Diterbitkan pada 25 Mei 2026 13:17 WIB

Baca

FASYA - Sabtu, (23/05/2026)  Kelompok Studi Mahasiswa Literasi, Riset, dan Jurnalistik (KSM LIRIK) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta) berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) LPM Dinamika, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pemikiran Politik Islam (PPI), serta Komunitas Literasi Serambi Kata menggelar kegiatan Bedah Buku novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang bertempat di Lapangan Utama UIN Surakarta.

Kegiatan bedah buku tersebut dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan budaya literasi mahasiswa sekaligus memperluas wawasan tentang nilai sosial, budaya, dan kemanusiaan dalam karya sastra Indonesia.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang sarat akan kritik sosial dan gambaran kehidupan masyarakat pedesaan. Melalui kisah yang disajikan, Ahmad Tohari menghadirkan realitas kehidupan masyarakat kecil yang penuh dengan tradisi, kemiskinan, dan pergolakan sosial-politik. Buku ini tidak hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga mengajak pembaca untuk memahami nilai kemanusiaan dan kehidupan masyarakat dari sudut pandang yang lebih mendalam.

Kegiatan dibuka oleh perwakilan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pemikiran Politik Islam (PPI) yang mengucapkan banyak terima kasih atas terlaksananya kegiatan bedah buku ini serta menjelaskan pentingnya menjaga semangat membaca dan budaya literasi di lingkungan kampus. Selanjutnya, acara dipandu oleh saudara Akhsan selaku moderator yang memantik jalannya diskusi mengenai pesan sosial dan budaya yang terkandung dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Pemaparan pertama disampaikan oleh saudara Muhammad Rafly Ramadan. Beliau menjelaskan bagaimana penulis menyajikan alur cerita yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk. Menurutnya, novel tersebut sejatinya merupakan gabungan dari tiga buku karya Ahmad Tohari, yaitu Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Pada buku pertama, diceritakan tentang lahir kembali tradisi ronggeng yang telah lama menghilang di Dukuh Paruk. Tokoh Srintil digambarkan sebagai sosok yang sejak awal sangat ingin menjadi ronggeng, yakni seorang penari sekaligus penghibur masyarakat desa. Bakat alami Srintil mulai terlihat ketika ia menari di hadapan teman-temannya hingga akhirnya mendapat perhatian dari sang kakek.

Muhammad Rafly Ramadan juga menjelaskan bahwa setelah Srintil terpilih menjadi ronggeng, ia harus menjalani berbagai syarat adat, salah satunya adalah tradisi bukak klambu atau sayembara keperawanan. Pada bagian ini pula diceritakan bahwa Srintil sebenarnya saling mencintai dengan Rasus, teman masa kecilnya di desa tersebut. Namun, Rasus merasa sakit hati dan kecewa terhadap tradisi yang harus dijalani Srintil. Perasaan tersebut akhirnya membuat Rasus memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan bergabung menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada buku kedua, dijelaskan bahwa setelah Srintil resmi menjadi ronggeng, kehidupannya berada di puncak kemewahan. Ia dihormati, dipuja, dan disanjung oleh warga Dukuh Paruk karena dianggap membawa kebanggaan bagi desa tersebut. Namun di balik semua itu, Srintil justru merasakan kehampaan dalam hidupnya. Ia sebenarnya hanya ingin menjadi perempuan biasa yang dapat hidup sederhana dan menjadi seorang ibu. Dalam kisah ini, Rasus sempat kembali ke desa sebagai seorang tentara, yang membuat Srintil berharap dapat hidup bersama dengannya. Akan tetapi, Rasus menolak harapan tersebut karena harus menjalankan tugas militernya. Penolakan itu membuat Srintil menyadari bahwa statusnya sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah sekaligus kutukan dalam hidupnya.

 

Pada buku ketiga, dijelaskan bahwa pergolakan politik tahun 1965 semakin memanas. Dukuh Paruk yang masyarakatnya masih buta huruf dimanfaatkan oleh Bakar, antek kelompok politik kiri atau PKI, untuk melakukan kampanye melalui pertunjukan ronggeng. Setelah terjadinya peristiwa G30S, Dukuh Paruk mengalami kekacauan besar. Desa tersebut dibakar dan banyak warga ditangkap karena dianggap terlibat atau menjadi antek pemberontak. Srintil turut ditahan selama dua tahun tanpa mengetahui kesalahan yang ia lakukan. Selama masa penahanan, Srintil mengalami trauma mendalam serta berbagai bentuk kekerasan fisik dan mental.

 

Setelah bebas, Srintil berusaha menata kembali hidupnya bersama seorang pria bernama Bajus. Namun, harapan untuk hidup tenang kembali pupus ketika Bajus justru berniat memanfaatkan dan “menjual” dirinya kepada pejabat. Tekanan batin yang terus menerus akhirnya membuat Srintil mengalami gangguan jiwa. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana kondisi sosial dan politik dapat menghancurkan kehidupan seseorang, terutama masyarakat kecil yang tidak memahami konflik yang sedang terjadi.

 

Beliau menambahkan bahwa cerita dalam novel ini sejatinya masih sering terjadi di Indonesia hingga saat ini. Budaya yang kerap disanjung dan dianggap sebagai tradisi luhur terkadang justru dapat menjerumuskan masyarakat itu sendiri. Selain itu, Ahmad Tohari dinilai sangat puitis dalam membungkus cerita sehingga pembaca tidak hanya menikmati alur kisahnya, tetapi juga dapat merasakan emosi dan realitas sosial yang disampaikan dalam novel tersebut.

 

Pemaparan berikutnya disampaikan oleh saudara Ahmad Tohari selaku pembedah kedua. Pada awal penyampaiannya, beliau terlebih dahulu mendisklaimer bahwa dirinya bukanlah penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, melainkan hanya memiliki nama yang sama dengan pengarang novel tersebut. Dalam pemaparannya, beliau banyak memberikan kritik terhadap gaya penulisan novel yang dinilai terlalu meromantisasi kemalangan sehingga para pembaca seolah dibawa tenggelam terlalu dalam ke dalam emosi cerita. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu kekuatan sekaligus sisi yang perlu dicermati dari karya sastra.

 

Beliau juga mengingatkan para peserta untuk tetap berpikir kritis terhadap karya sastra selain hanya mengapresiasinya. Kemampuan untuk mengkritisi isi maupun cara penyampaian sebuah karya dinilai sangat penting agar pembaca tidak hanya menikmati cerita secara emosional, tetapi juga mampu memahami pesan, ideologi, dan realitas sosial yang tersembunyi di balik karya tersebut. Ia menambahkan bahwa budaya berpikir kritis terhadap sastra saat ini mulai jarang ditemukan, padahal hal tersebut merupakan bagian penting dalam tradisi literasi dan diskusi akademik.

 

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mendiskusikan isi buku tersebut secara lebih mendalam. Setelah sesi diskusi kelompok selesai, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun pendapat kepada para pembedah. Diskusi berlangsung aktif dan penuh antusiasme dari para peserta.

 

Salah satu peserta berpendapat bahwa perempuan dalam novel tersebut digambarkan hanya sebagai penghibur ataupun pelayan bagi laki-laki. Menurutnya, perempuan sering kali dipandang rendah dalam kehidupan masyarakat. Pendapat tersebut kemudian dikaitkan dengan peristiwa pelecehan seksual yang sempat terjadi di lingkungan kampus UIN Raden Mas Said Surakarta. Peserta tersebut menyampaikan bahwa dosen yang terbukti melakukan pelanggaran semacam itu tidak pantas untuk dimaafkan begitu saja. Peristiwa tersebut dinilai mengingatkan pada kisah tragis Srintil yang selama hidupnya kerap diperlakukan hanya sebagai pemuas nafsu dan objek bagi kepentingan orang lain.

 

Diskusi berlangsung hangat dan menjadi ruang bertukar gagasan antara pemateri dan peserta. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat semakin tertarik untuk membaca karya sastra Indonesia serta mampu mengambil nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Selain itu, kegiatan bedah buku ini juga diharapkan menjadi sarana untuk menumbuhkan budaya diskusi dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa. (Rafly - KSM LIRIK/ Ed. smn)