“Life is not about our plan, but it is His plan, and we as a man only follow His path. Takdir itu soal keteguhan iman untuk melewati hari demi hari dalam suka dan duka.”
FASYA-Kamis (16/4/2020). Ucapan selamat sangat layak disampaikan kepada Ibu Haryani Saptaningtyas, S.P., M.Sc., PhD Cand. Salah satu Dosen Luar Biasa Fakultas Syariah IAIN Surakarta ini berhasil meraih beasiswa short course untuk pemimpin multiagama di Australia. Beasiswa tersebut beliau peroleh atas rekomendasi Dekan Fakultas Syariah, yakni Dr. Ismail Yahya, S.Ag., M.A. Pada tahun ini ada 25 penerima beasiswa dari Indonesia, termasuk beliau. Dalam pelaksanaannya, program beasiswa ini memiliki tiga fase. Fase pertama adalah Pre-Course yang dilaksanakan di Jakarta. Fase kedua adalah Short Course di Australia. Fase ketiga dalah Post-Course Workshop. Namun, pelaksanaan program ini untuk sementara ditunda sampai ada pemberitahuan lebih lanjut karena saat ini masih masa pandemi Covid-19. Untuk mendapatkan beasiswa ini, selain karena pengalaman dalam bidang keagamaan dan masyarakat, peserta harus mengajukan rencana proyek. Ibu luar biasa yang sudah dikaruniai empat anak ini menyusun proyek dengan judul “Memperkuat Peran Santri Perempuan untuk Mempromosikan Relasi Antaragama, Meningkatkan Kesadaran Lingkungan dan Ekonomi yang Selaras dengan Sustainable Development”. Proyek ini merupakan konsep sederhana dengan pendekatan multidimensi, yakni agama, lingkungan, dan ekonomi. Bagi wanita kelahiran Wonosobo yang merupakan salah satu daerah dengan angka kemiskinan tertinggi dan angka pendidikan terendah pada saat itu, bisa menempuh pendidikan sampai jenjang SMP dan SMA termasuk sudah hebat sekali. Tahun 1994 Ibu Haryani berhasil menjadi salah satu mahasiswa pertanian di UNS Surakarta melalui jalur PMDK. Hal itu takluput dari perjuangan kakak dan ayah beliau yang hanya PNS “pesuruh” kala itu. Takmudah bagi keluarga beliau menjalani hidup ini sampai-sampai ibunya harus berjualan baju bekas (rombeng) untuk membantu kebutuhan keluarga. Untuk bisa bertahan sepanjang studi S-1, beliau menulis rubrik, mengikuti ajang kompetisi karya ilmiah, mengikuti proyek penelitian dosen, dan berjuang memperoleh Beasiswa Supersemar. Upah proyek, beasiswa, pengalaman penelitian itulah yang membantunya dalam menyelesaikan studi. Beliau bersyukur karena selalu dipertemukan dengan dosen-dosen yang luar biasa hingga salah satu penelitiannya tentang Bengawan Solo diapresiasi oleh Kementerian Pertanian. Beliau tidak malu menceritakan kisah hidupnya hingga sukses seperti sekarang ini agar menjadi inspirasi bagi yang lain. “Kemiskinan itu bisa dilawan”. Itulah ungkapan mutiara yang bisa kita petik dari beliau. Wanita yang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara ini bisa dikatakan sebagai pejuang beasiswa. Selain memperoleh beasiswa saat studi S-1, beliau juga terus berjuang untuk memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3. Hal itu taklain karena semangatnya menuntut ilmu demi membahagiakan keluarganya. Ketika menempuh studi S-2, beliau mengambil program kuliah di Social dan Cultural Anthropology di Vrije University. Karena lintas prodi antara sudi S-1 dan S-2, beliau harus melewati jenjang Pre-Master Course. Dengan Beasiswa Ford Foundation setelah dua kali gagal saat wawancara dan saat itu sedang hamil, akhirnya beliau berhasil menempuh studi sejak 2006-2009 dengan nilai Thesis 8. Saat melanjutkan studi S-3 di University Radboud Belanda, beliau mendapat beasiswa penuh dari universitas tersebut dan beasiswa riset dari CORDAID, sebuah NGO di Negeri Kincir Angin . Wanita tangguh yang satu ini memilih Track Sandwich Programsaat menjalani studinya demi keluarga. Dengan program tersebut, hanya tiga bulan di Belanda tiap tahunnya. Menurut beliau, tidak mudah menempuh studi S-3 di luar negeri dengan meninggalkan keluarga. Selama itu, banyak drama dalam kehidupannya, seperti kematian dan kelahiran hingga beliau sudah akrab dengan rumah sakit. Kunci suksesnya dalam menyelesaikan disertasi adalah berusaha teguh dan mencicil paragraf demi paragraf hingga mengasingkan diri dari berbagai aktivitas. “Life is not about our plan, but it is His plan, and we as a man only follow His path. Takdir itu soal keteguhan iman untuk melewati hari demi hari dalam suka dan duka.” Itulah prinsip beliau dalam menjalani hidup ini. (Mokh. Yahya/Ed.MY)SK Dekan Fakultas Syariah Pedoman Pencetakan Buku Daras 2026
2 hari yang lalu - InformasiJadwal Pelaksanaan Seminar Proposal Artikel Bulan Juni Tahun 2026
2 hari yang lalu - InformasiJadwal Pelaksanaan Seminar Proposal Skripsi Bulan Juni Periode #2 Tahun 2026
2 hari yang lalu - Informasi