Sepenggal Kisah Kepenulisan Prof. Irwan Abdullah

Oleh: Ahmadi Fathurrohman Dardiri

Hari ini, Rabu 22/09/2021 merupakan kali kedua saya berada di forum yang menghadirkan Prof. Dr. Irwan Abdullah sebagai narasumber. Forum pertama yang saya hadiri diselenggarakan oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta pada 2017 lalu. Hari ini, 4 tahun kemudian, saya menyaksikan upgrade pengetahuan Prof. Irwan tentang trik dan kiat riset dalam keadaan yang sama: masih merasa buntu untuk menyelesaikan tulisan. Sungguh menyedihkan diri ini.

Namun, kali ini saya tidak ingin menceritakan detil riset yang tahapan-tahapannya panjang sekali. Well, saya hanya ingin bersuka cita memaknai lebih mendalam beberapa pengalaman hidup beliau tentang menulis yang diceritakan di sela-sela coaching kepenulisan bersama para dosen di lingkungan Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta.

Dunia Kepenulisan: Jalan Sufi dan Keberkahan

Saya percaya, makin tua seseorang makin kolot pemikirannya. Sikap kolot ini tentu saja hanya berlaku bagi mereka yang kualitas intelektualnya buruk karena tak pernah diasah dengan membaca dan berpikir kritis. Namun, bagi pribadi seperti Prof. Irwan, makin tua usia justru makin berusaha konsisten dengan jalan hidupnya sebagai pembelajar sekaligus pendidik. Selain itu, bertambahnya usia juga makin mendorong dirinya melepaskan jubah kedigdayaannya sebagai sosok penting di hadapan banyak orang.

Suatu kali saya melihat tayangan diskusi mahasiswa di mana Prof. Irwan hadir sebagai hadirin. Ada pemuda berusia 21 tahun yang sedang asik menjelaskan proses kreatifnya saat menulis buku berjenre diari cum inspirasi hidup. Ternyata, sosok pemuda ini adalah putra Prof. Irwan, Gibran Irfani Abdullah.

Gibran bercerita bagaimana ayahnya memposisikan diri sebagai teman baginya, lebih-lebih di bidang kepenulisan. Hal itu bahkan sudah terjadi sejak di usia Gibran yang sangat muda, saat ia masih menggemari tulisan diari sederhana. Ayahnya sangat menghargai apapun tulisan yang Gibran tunjukkan, seremeh cerita Gibran mencetak 2 gol ke gawang saat pertandingan sepak bola.

Apa yang tercermin di diri Prof. Irwan di hadapan anaknya adalah apa yang disebutnya sebagai ‘imajinasi di hadapan orang lain’. Beliau berujar, “Kita seringkali gagal mengimajinasikan diri kita di kehidupan orang lain.” Di hadapan generasi muda, misalnya mahasiswa strata 1, Prof. Irwan mengajak para dosen untuk berbagi lebih dan mendidik lebih, sambil berimajinasi ‘bagaimana diri kita di hadapan mereka’ puluhan tahun mendatang. Kisah Gibran di atas membuktikan betapa selarasnya ucapan dan tindakan Prof. Irwan dalam kesehariannya.

Imajinasi di hadapan orang lain, menurut Prof. Irwan, adalah apa yang barangkali dulu dialami dan dilakukan oleh tokoh yang dikenal lewat tulisan-tulisannya. Nama-nama seperti Cak Nur, Deliar Noer, juga Zamakhsyari Dhofier adalah tokoh-tokoh hebat yang menurut Prof. Irwan berhasil menciptakan imajinasi itu.

“Saya menulis tentang Covid-19. Bayangkan naskah itu diakses 50 tahun dari sekarang.” Selain imajinasi, bagi Prof. Irwan, menulis itu bukan soal memenuhi kewajiban dasar administrasi sebagai dosen, melainkan wajib memiliki ruh dan mengandung sejarah yang bisa ditinggalkan ke generasi-generasi selanjutnya. Kelak ada rasa bangga (pride) saat naskah kita dirujuk dan dijadikan pegangan oleh generasi selanjutnya.

Prof. Irwan menyitir pesan sufistik dari koleganya, bahwa di balik gaji kita bersemayam hak istri dan anak. Bayangkan saja jika gaji kita tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maka menulis adalah ‘pekerjaan tambahan’ di luar gaji tetap yang biasa diterima. Pada akhirnya, menulis menjadi sebentuk tanggungjawab tambahan dan kerja keras kita untuk dipersembahkan kepada keluarga.

Melalui menulis Prof. Irwan membuktikan diri dapat mempercepat dan memperlancar rejeki bagi keluarganya. Pertama, saat hendak studi S2 di Belanda (Universitiet van Amsterdam). Bukannya berkuliah S2, beliau disarankan untuk langsung menempuh studi S3 oleh para supervisor yang menilai rekam jejak kepenulisannya dan dianggap sangat luar biasa. Jadi, beliau tak pernah punya gelar akademik S2.

Kedua, dari jabatan fungsional (jabfung) lektor langsung ke profesor. Lazimnya, sebelum menyandang gelar profesor, seorang dosen harus menyandang jabfung lektor kepala terlebih dahulu selama beberapa tahun. Namun, sebagai dosen prolifik di bidang kepenulisan, pihak administrasi di kampus Universitas Gadjah Mada menghendaki Prof. Irwan segera menyandang profesor dikarenakan angka kredit dosen yang dimiliki telah jauh melampaui standar minimal untuk persyaratan pengajuan jabfung profesor.

Kini, di usianya yang ke-58 tahun, Prof. Irwan terlihat semakin asik melakukan kaderisasi periset muda di bawah supervisinya. Mungkin, sebagaimana dunia riset dan kepenulisan yang telah sejak lama menjadi candu bagi beliau, dunia kaderisasi periset-periset muda juga tampak menjadi candu baru bagi beliau. Sehat selalu, Prof. Irwan. (afd)

Bagikan

Berita Terkait