Workshop Rukyat dan Hisab: Kriteria dan Persoalan Awal Bulan Qamariyah

FASYA-Acara workshop Rukyat dan Hisab diselenggarakan oleh Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta pada hari Rabu, (30/3/2022). Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Syariah, Dr. Ismail Yahya, M.A. dengan dihadiri oleh Dosen-dosen, tenaga pendidik dan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Syariah.

Narasumber yang dihadirkan adalah para pakar dalam bidang ilmu Falak atau Astronomi, yaitu; Ahmad Syifaul Anam, S.H.I., M.H. (Ketua Lajnah Falakiyah PWNU Jawa Tengah) dan Muchammad Choirun Nizar, S.H.I., M.H.I (Dosen FAI UNISSULA Semarang) dengan moderator Yassirly Amrona Rosyada, S.Sy., M.P.I. (Dosen IAIN Salatiga).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Dekan dan para Wakil Dekan Fakultas Syariah dan dilakukan oleh Laboratorium Hisab Rukyat “Al Hilal” UIN Raden Mas Said Surakarta yang diketuai oleh Dr. Fairuz Sabiq, M.S.I. Kegiatan workshop ini dilakukan dengan daring dan luring. Peserta yang hadir secara luring di batasi hanya 50 orang dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Kegiatan workshop ini dilakukan menjelang awal bulan Ramadhan 1443 H. karena menangkap isu penting yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu adanya kemungkinan besar terjadi perbedaan awal Ramadhan, karena adanya perubahan kriteria imkanurrukyat dari Pemerintah Indonesia. Mahasiswa dan Dosen harus dapat menangkap perubahan kriteria ini, sehingga dapat menyikapi dengan arif dan menyelesaikan persoalan perbedaan awal bulan Qamariyah di masyarakat.

Besar kemungkinan awal puasa Ramadhan 1443 H ini berbeda di Indonesia, yaitu organisasi Muhammadiyah menetapkan awal bulan Ramadhan 1443 H. pada hari Sabtu, 2/4/2022 karena posisi hilal di Indonesia sudah lebih dari kriteria wujudul hilal, sementara Pemerintah Indonesia dan organisasi Nahdlatul Ulama kemungkinan menetapkan awal Ramadhan 1443 H. pada hari Ahad, 3/4/2022, karena ketinggian hilal di Indonesia paling rendah di atas 0° (derajat) dan paling tinggi 2° (derajat). Ketinggian hilal awal Ramadhan 1443 H. ini masih di bawah kriteria baru dari Pemerintah Indonesia, yaitu 3° (derajat).

Kegiatan ini berlangsung lancar dengan penyampaian teori-teori awal bulan Qamariyah, mulai dari kriteria dan konsep dari organisasi-organisasi di Indonesia dan Pemerintah Indonesia. Konsep wujudul hilal, imkanurrukyat, rukyat dan persoalan-persoalan yang ada pada kelompok hisab dan rukyat.

Perubahan kriteria imkanurrukyat pemerintah Indonesia dari 2°, 3°, 8° yaitu hilal dapat dilihat pada ketinggian minimum adalah 2° dan jarak Matahari-Bulan minimum (elongasi) 3° atau umur bulan minimum 8° menjadi kriteria 3°, 6,4° yaitu ketinggian hilal dapat dirukyat minimum 3° dan jarak Matahari-Bulan minimum (elongasi) 6,4°. Perubahan ini menarik jika dilihat dari perspektif hisab wujudul hilal Muhammadiyah dan rukyat Nahdlatul Ulama. Mahasiswa dan dosen memerlukan wawasan yang baru terkait perubahan kriteria ini.

Acara berlangsung sangat menarik karena tidak hanya teori-teori yang disampaikan, tetapi juga ada praktik rukyat dan permainan ketajaman mata. Praktik rukyat dilakukan dengan simulasi melihat hilal yang ditampilkan melalui layar monitor. Tes ketajaman mata sangat bermanfaat untuk melatih kegiatan rukyatul hilal.
Peserta kegiatan sangat bersyukur karena mendapatkan ilmu astronomi yang up to date dengan perkembangan zaman dan juga mendapatkan pengalaman-pengalaman hisab rukyat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. (Fairuz Sabiq/Ed.afz/SINPUH)

Silakan unduh materi di bawah ini:

Materi 1: Kriteria Dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah Di Indonesia

Materi 2: Imkan Rukyat

Materi 3: Penetapan Awal Dan Akhir Bulan Kamariah Menurut Nu

Bagikan

Berita Terkait