Loading...

Bahas Pendekatan Ekoteologis terhadap Ekonomi Biru Sirkular: Membangun Sistem Ekonomi Regeneratif di Pesisir Aceh, Dekan Fakultas Syariah UIN Surakarta Presentasi di AICIS+ 2025

Diterbitkan pada 31 Oktober 2025 11:17 WIB

Baca



FASYA
-Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Konferensi Internasional ke-24 bertajuk Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025. Konferensi ini dilaksanakan di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) pada 29–31/10/2025, dengan tema “Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidisciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future.”

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan melalui website Kemenag RI, panitia AICIS 2025 menerima lebih dari 2300 abstrak dari 31 negara, namun hanya 230 abstrak terpilih untuk bisa menyampaikan gagasannya di panggung AICIS 2025. Ada 7 sub tema dalam AICIS kali ini, yakni Science and Technological Transformation, Ecotheology and Environmental Sustainability, Islamic Law, Social Equality, and Eco-Feminism, Sustainable Economic System and Social Welfare, Decolonizing Islamic Studies, Peace Building and Humanitarian Crisis dan Public Health in Muslim Societies.

Dari 230 abstrak yang diterima, salah satunya yakni dari Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Muh. Nashirudin, S.Ag., M.A., M.Ag. Dengan judul papernya “An Ecotheological Approach to a Circular Blue Economy: Building a Regenerative Economic System in Coastal Aceh”, Prof. Nashirudin berkolaborasi dengan dua dosen dari UIN Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, yakni Ramadhan dan Almira Keumala Ulfah.

Masuk dalam sub tema Sustainable Economic System and Social Welfare, paper Muh. Nashirudin membahas terkait eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan berdasarkan ekoteologi. Mengambil Lokasi penelitian di Pesisir Aceh, di sana ada Panglima Laot yang berperan sebagai lembaga lokal yang penting dalam tata kelola sumber daya, meskipun keberlanjutannya menghadapi tantangan modernisasi dan menurunnya partisipasi pemuda.

Lebih lanjut, meskipun kebijakan pemerintah seperti Qanun Aceh mengenai pengelolaan kelautan dan limbah sudah ada, namun masih lemah dalam hal penegakan hukum dan dukungan infrastruktur. Selain itu, elemen ekonomi sirkular terlihat jelas dalam praktik masyarakat, termasuk penggunaan kembali jaring, pengolahan limbah ikan menjadi pupuk, dan larangan pencemaran laut.

Ucapan selamat datang dari dari Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag. “Selamat untuk para pembicara AICIS+ dari UIN Surakarta, baik open panel ataupun invited speaker. Semoga berdampak dan maslahat bagi UIN Surakarta dan umat. Selamat berkonferensi!, ucapnya.

Selain Muh. Nashirudin, ada 7 dosen UIN Raden Mas Said Surakarta yang dikirim untuk mengikuti AICIS+ 2025. (AFz)