Loading...

Bedah Fatwa KSM FATAWA: Solidaritas Santri dan Strategi Komunikasi Pesantren di Era Digital

Diterbitkan pada 6 November 2025 11:23 WIB

Baca


FASYA
-Kegiatan Diskusi Bedah Fatwa dengan tema “Solidaritas Santri dan Strategi Komunikasi Pesantren di Era Digital: Membangun Narasi Positif di Tengah Kontroversi Media” dilaksanakan di kediaman Gus Mustain Nasoha. Acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua umum KSM Fatawa, saudara Muhammad Prayogi yang menandai dimulainya forum diskusi secara resmi. Dalam penyampaian materinya, Gus Mustain Nasoha menyinggung kasus viral yang melibatkan salah satu pondok pesantren yang diberitakan oleh stasiun televisi Trans7. Menurut beliau, semua peristiwa yang terjadi adalah ketentuan terbaik dari Allah SWT dan dapat dijadikan bahan introspeksi bagi pesantren untuk memperbaiki kekurangannya.

Gus Mustain juga menegaskan bahwa media seperti Trans7 memang memiliki manfaat besar karena berperan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Namun, media tidak boleh lepas dari etika profesi, terutama dalam menyampaikan berita. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa ketika seseorang menyampaikan informasi, harus sesuai dengan fakta dan tidak menimbulkan maḍarat (dampak buruk). Hal ini dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin, bahwa meskipun berita yang disampaikan benar, jika berpotensi menimbulkan kerugian, maka penyampaiannya tetap dilarang.

Tentang Tabayyun (Klarifikasi)
Beliau menekankan pentingnya sikap tabayyun atau klarifikasi sebelum menyebarkan suatu berita. Jika seseorang langsung menyimpulkan tanpa melakukan tabayyun, maka hal tersebut bisa menjadi fitnah dan termasuk dalam kategori pelanggaran hukum pidana (jinayat). Oleh karena itu, Islam mengajarkan agar meninggalkan hal-hal yang meragukan dan hanya menyampaikan yang benar-benar meyakinkan.

Dalam konteks siaran Trans7, pemberitaan tersebut seolah-olah menggambarkan semua pesantren bersifat feodal, memiliki bangunan tidak layak, dan bernuansa negatif. Padahal, kenyataannya tidak semua pesantren seperti itu — hanya terjadi di satu pesantren tertentu. Karena itu, seharusnya media menjelaskan konteksnya secara spesifik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman publik.

Klarifikasi tentang Isu Feodalisme di Pesantren
Menurut Gus Mustain, anggapan bahwa pesantren menerapkan sistem feodalisme adalah keliru besar. Feodalisme identik dengan perbudakan, sedangkan di pesantren tidak ada sistem perbudakan. Santri justru mengkhidmatkan diri kepada kiai dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, bukan karena paksaan. Bahkan, santri di pesantren diberikan kebebasan untuk boyong (pulang), belajar, dan mengembangkan diri sesuai kemampuannya. Dalam hadis pun dijelaskan bahwa umat Islam harus menghormati orang berilmu dan berakhlak mulia. Karena itu, sikap hormat santri kepada kiai adalah bentuk budi pekerti luhur yang memang menjadi budaya pesantren.

Sikap Santri Terhadap Tuduhan Palsu
Dalam perjalanan dakwah dan perjuangan menjaga marwah ulama, ujian kerap datang dari arah yang tak terduga. Fitnah dan kesalahpahaman bukan hal baru bagi para kiai, namun di sanalah tampak keteguhan hati dan kemuliaan adab santri. Kisah berikut menggambarkan bagaimana para santri Lirboyo meneladani kesabaran guru-gurunya: membela kebenaran tanpa amarah, menyuarakan keadilan tanpa kekerasan, dan menjaga kehormatan dengan cara yang beradab. Sebuah pelajaran hidup tentang bagaimana ilmu, cinta, dan akhlak berpadu dalam satu Langkah.

Ketika para kiai sepuh Lirboyo difitnah oleh media, para santri merasa berkewajiban menyampaikan aspirasi dan membela gurunya. Mereka melakukannya dengan cara yang sopan dan damai melalui kegiatan bersholawat, berdoa bersama, dan aksi moral yang santun sehingga berbeda dari demonstrasi pada umumnya. Para santri menuntut agar pihak Trans7 meminta maaf secara resmi, bukan hanya lewat karyawannya, karena yang bertanggung jawab atas siaran adalah pihak pimpinan. Namun, meski telah difitnah, para kiai tetap sabar, tidak marah, dan tetap fokus mengajar santri sebagaimana biasanya.

Dampak Kasus terhadap Masyarakat dan Pesantren
Dari peristiwa yang sudah dijelaskan tersebut, muncul beberapa pelajaran dan dampak positif, antara lain:
1. Masyarakat bisa melihat bahwa para santri tetap menjaga sopan santun dan akhlak dalam menyampaikan aspirasi.
2. Kesabaran para kiai yang tetap mengajar meskipun difitnah menunjukkan kebesaran jiwa dan menaikkan derajat pesantren.
3. Kekompakan para santri membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga yang kuat dan tidak bisa diremehkan.
4. Masyarakat menjadi lebih kritis dalam menilai mana media yang dapat dipercaya dan mana yang tidak.
(KSM FATAWA/Ed.AFz)