Loading...

Ihda, Merangkai Prestasi Lewat Puisi

Diterbitkan pada 6 April 2018 15:20 WIB

Baca

FASYA - Namanya Ihda Febrianti. Mahasiswa Manajemen Zakat dan Wakaf (MAZAWA). Mahasiswa yang lahir di Ngawi, Jawa Timur, 14 Februari 1998 ini diam-diam telah beberapa kali mengikuti lomba cipta karya puisi. Hal itu dilakukannya sebagai wujud dari minatnya berpuisi. Ia mengaku pertama kali mengikuti lomba puisi pada tahun 2017. Ia menaruh minat pada puisi, menurutnya, karena puisi mampu melukiskan perasaan yang tidak dapat diungkapkan secara lisan. Beberapa karyanya telah diikutsertakan dalam berbagai event lomba. Di antaranya “Bekas Terindah”, “Aku Cemburu”, dan “Tapak Kaki Kami”. Puisinya berjudul “Bekas Terindah” tercatat menjadi puisi terpilih pada Lomba Menulis Puisi Tingkat Nasional bertema Without You yang diselenggarkan oleh Putri Dewi Media pada 10 Oktober-17 November 2017. Sementara pada event puisi lainnya yang diselenggarakan oleh Putri Dewi Media pada bulan Januari 2018, puisinya berjudul “Aku Cemburu”, juga menjadi salah satu karya terpilih untuk dibukukan. Selain event-event di atas, ia juga pernah mengikuti event yang diselenggarakan oleh Ofainthasm Community pada Januari 2018. Walau tidak semua puisi yang diikuti mendapat respon baik dari penyelenggara, ia mengaku akan tetap berusaha menulis. Ke depan, ia ingin berusaha lebih produktif dalam berpuisi dan tidak merasa puas dengan apa yang telah dicapai. Berikut, petikan beberapa karya puisi Ihda: Bekas Terindah Rasanya ringan udara mengalir di tangan Rasanya berat kaki melangkah Tak beratkah tanpaku? Apa tak berbekas genggamanku? Ku tutup kelopak mata rasakan aliran sendu Dingin diterpa angin rindu Seolah kau tak jauh dari tempatku Kesadaranku melesat menerpa kembali Tak sangka itu hanya kenangan Mengingatmu adalah sebuah kesalahan Menghancurkan harapan tentangmu las an hidupku kini Tak bisakah kita mulai kembali Haruskah benar-benar tanpamu? *** Aku Cemburu Bagai kuncup bunga mutiara Berapapun jauhnya tak bisa mengelak harumnya Tak heran banyak yang mendekat Dengan alasan-alasan klasik mereka Terbesit rasa cemburu di hatiku Bagaimana ini? Wajar kesan ramah yang kau tampilkan Dengan rupa nan tampan Dengan pola pikir dinamismu Siapa yang tak kewalahan menahan diri Jujur tak bisakah kau menahan sedikit kelebihanmu Walau hanya temanmu Payah..aku kepayahan menghadapi ini Aku cemburu..sungguh cemburu Apa tak terlihat dari sikapku? Tolong pahami..aku disini menatap cemburu *** Tapak Kaki Kami Permata dunia yang nampak kisahnya Menyilaukan diukir aliran cahaya Memikul lara memetik bahgia Tanahku ini Indonesia jawabnya Pernah jadi sendu duka lara Dipapah kuasa ikut jalannya Orang asing tak tahu menahu itu Merenggut tapak kaki kami Kenapa? Peluru panas tangan besi jawabnya Tak akan kutanya lagi alasan Ini hakku hak kami kuasa Jatuh di tanganmu hanya buaian Jatuh di tangan kami kepastian Atas kuasa Tuhan kami utarakan Mengalir kepastian Indonesia merdeka *** (Sumber: Ihda/Peny: SH)