Loading...

Prediksi Astronomis 1 Syawal 1447 H: Ijtimak Terjadi Sebelum Ghurub, Potensi Perbedaan Awal Syawal Masih Terbuka

Diterbitkan pada 6 Maret 2026 15:16 WIB

Baca

Oleh: Dr. M. Himaturriza, M.H.

 

FASYA - Penentuan awal 1 Syawal 1447 H kembali menjadi perhatian umat Islam menjelang berakhirnya bulan Ramadan. Berdasarkan kajian astronomis (hisab), posisi Bulan pada akhir Ramadan tahun ini menunjukkan dinamika yang menarik dan berpotensi memunculkan perbedaan penetapan di sejumlah wilayah.

Berdasarkan hasil perhitungan astronomis, konjungsi atau ijtimak akhir Ramadan 1447 Hijriyah diperkirakan terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, tepatnya pukul 08.25:28 WIB. Ijtimak merupakan momen ketika Matahari dan Bulan berada pada satu garis bujur ekliptika yang sama, yang secara astronomis menjadi penanda berakhirnya satu siklus bulan kamariah. Namun demikian, terjadinya ijtimak tidak serta-merta menjadikan hari tersebut sebagai awal bulan baru, karena masih diperlukan analisis posisi hilal pada saat Matahari terbenam.

Pada hari yang sama, waktu Matahari terbenam di wilayah Indonesia diperkirakan sekitar pukul 18.52 WIB. Pada saat itulah parameter visibilitas hilal menjadi sangat menentukan. Berdasarkan data hisab, ketinggian hilal mari saat Matahari terbenam diperkirakan hanya sekitar 1 derajat 35 menit 13 detik di atas ufuk, dengan sudut elongasi 5 derajat 36 menit 45,02 detik. Angka ini menunjukkan bahwa hilal memang sudah berada di atas ufuk, tetapi masih dalam kategori sangat rendah dan tipis secara astronomis.

Jika merujuk pada kriteria imkan rukyat yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—batas minimal visibilitas hilal adalah tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan demikian, posisi hilal pada 19 Maret 2026 masih berada di bawah ambang batas tersebut. Selisih ketinggian hanya sekitar 1,41 derajat dan selisih elongasi sekitar 0,78 derajat dari standar minimal, sebuah margin yang cukup tipis namun signifikan dalam praktik rukyat. Sehingga kemungkinan bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Meskipun umur Bulan saat Matahari terbenam telah mencapai sekitar 9 jam 23 menit, faktor usia Bulan bukan satu-satunya penentu keterlihatan hilal. Faktor ketinggian sudut, jarak sudut dari Matahari (elongasi), kondisi atmosfer, transparansi langit, hingga faktor psikologis dan pengalaman pengamat turut memengaruhi keberhasilan rukyat. Dengan parameter yang masih berada di bawah kriteria, peluang hilal untuk dapat terlihat di wilayah Indonesia diperkirakan sangat kecil.

Menariknya, beberapa jam setelah Matahari terbenam di Indonesia, kondisi astronomis di kawasan Timur Tengah menunjukkan situasi yang berbeda. Dengan perbedaan waktu sekitar empat jam, posisi Bulan relatif lebih tinggi dan elongasinya semakin besar ketika Matahari terbenam di wilayah seperti Arab Saudi. Secara astronomis, tambahan waktu tersebut memberi peluang lebih besar bagi hilal untuk memenuhi kriteria visibilitas dan berpotensi dapat dirukyat.

Perbedaan kondisi geografis dan waktu inilah yang berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antarnegara. Dalam konteks global, fenomena ini bukan hal baru, melainkan konsekuensi ilmiah dari dinamika gerak Bulan yang terus berubah terhadap posisi Matahari dan Bumi. Oleh karena itu, kemungkinan adanya perbedaan awal Syawal di Indonesia maupun dengan sebagian negara Timur Tengah tetap terbuka secara astronomis.

Menanggapi potensi perbedaan penetapan awal Syawal tersebut, Dekan Fakultas Syariah UIN Surakarta, Prof. Dr. Muh. Nashirudin, S.Ag., M.A., M.Ag., mengajak masyarakat untuk menyikapinya dengan kedewasaan dan sikap saling menghormati. Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriah merupakan hal yang telah lama terjadi dalam tradisi keilmuan Islam, baik karena perbedaan metode maupun perbedaan wilayah geografis pengamatan.

“Perbedaan dalam menentukan awal Syawal hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan di tengah umat. Justru di sinilah kita diuji untuk menunjukkan kedewasaan dalam beragama, dengan tetap menghormati keputusan masing-masing otoritas keagamaan dan menjaga ukhuwah Islamiyah,” ujar Muh. Nashirudin.

Ia juga berharap agar kemungkinan adanya perbedaan dalam memulai Hari Raya Idul Fitri 1447 H tidak mengurangi kekhidmatan umat Islam dalam merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan. “Yang terpenting adalah bagaimana Idul Fitri menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, mempererat silaturahmi, dan menyatukan hati umat Islam. Perbedaan hari tidak seharusnya mengurangi makna kebersamaan dan kebahagiaan dalam menyambut Idul Fitri,” tambahnya.

Sebagai penegasan, analisis ini murni merupakan kajian ilmiah berbasis perhitungan astronomi dan bukan keputusan resmi penetapan awal bulan hijriah. Penentuan awal Syawal 1447 H di Indonesia tetap menjadi kewenangan Pemerintah Republik Indonesia melalui mekanisme sidang isbat yang melibatkan data hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan. Masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi dari otoritas terkait yang dalam hal ini adalah Kementerian Agama RI. Sementara informasi ini dihadirkan sebagai bagian dari edukasi dan penguatan literasi Ilmu Falak di tengah publik. (Dr. M. Himaturriza, M.H.)

 

Lets join us!
Fakultas Unggul

_____

Find us:

 

#uinsurakarta
#fakultassyariahuinsurakarta
#fakultasunggul
#DariFASYAuntukBangsa
#ayoookuliahdifasyauinrmsaidsurakarta