Loading...

PUSKOHIS Fakultas Syariah UIN Surakarta Sukses Gelar Seminar Internasional "The Middle East and Emerging Global Order: Challenges, Transitions, and Strategic Role of Middle Powers"

Diterbitkan pada 23 Januari 2026 10:28 WIB

Baca

FASYA – Seminar internasional bertajuk The Middle East and Emerging Global Order: Challenges, Transitions, and Strategic Role of Middle Powers sukses diselenggarakan pada Senin (19/1/2026) di Theatre Room Lantai 2, Gedung SBSN Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta (UIN Surakarta). Acara yang digagas atas kerjasama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dengan Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam (PUSKOHIS) Fakultas Syariah UIN Surakarta serta Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Pidana Islam (HPI) Fakultas Syariah tersebut menjadi wadah diskusi mendalam mengenai dinamika geopolitik Timur Tengah di tengah pergeseran tatanan global.

Pembukaan spektakuler oleh Pimpinan Tinggi UIN Surakarta dan Pemerintah Daerah

Seminar dibuka secara resmi dengan dua pidato pembuka yang inspiratif. Rektor UIN Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., menyampaikan opening speech pertama, menekankan peran krusial pemerintah dalam menghadapi tantangan The Middle East and Emerging Global Order. "Pemerintah memiliki tanggung jawab strategis untuk menavigasi transisi global ini, dimana peran middle powers seperti Indonesia menjadi penentu keseimbangan," ujar Prof. Toto, yang juga menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan luar negeri dalam menjaga stabilitas regional.

Mengikuti itu, Dekan Fakultas Syariah UIN, Prof. Dr. Muh. Nashirudin, S.Ag., M.A., M.Ag., menyampaikan opening speech kedua. Beliau memaparkan kontribusi akademisi dan kampus sebagai think tank utama dalam membahas isu-isu kompleks seperti challenges, transitions, and strategic role of middle powers. "Kampus bukan hanya tempat belajar, tapi juga laboratorium gagasan untuk solusi perdamaian dunia," tegas Prof. Nashirudin, yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi dalam diplomasi berbasis nilai Islam.

Keynote dan Pembicara Utama Hadirkan Perspektif Global

Sebagai keynote speaker, Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah (SETDA) Provinsi Jawa Tengah, Haerudin, S.H., M.Hum., membuka sesi utama dengan pemaparan mendalam tentang kerangka hukum nasional dalam konteks tatanan global baru. Pemaparannya menjadi fondasi bagi diskusi selanjutnya.

Puncak acara ditandai dengan kehadiran pembicara utama yang prestisius. Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, H. Muhammad Anis Matta, Lc., memukau audiens dengan presentasi komprehensif yang mencakup empat poin krusial:

  • Strategi Indonesia di Dunia Islam: Beliau menguraikan posisi Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang mampu memediasi konflik melalui pendekatan inklusif.
  • Perubahan Tatanan Global: Anis Matta menjelaskan bahwa tatanan global lama sudah tidak efektif, sementara yang baru belum terbentuk sepenuhnya. Hal ini menimbulkan konflik supremasi antar-kekuatan utama dunia dan penggunaan "bahasa kekuatan" dalam menyikapi isu-isu sensitif.
  • Dimensi Geopolitik Diplomasi RI: Fokus pada aspek geografis, peradaban, solidaritas umat Islam, serta nilai kemanusiaan sebagai pilar utama kebijakan luar negeri Indonesia.
  • The Middle East and Emerging Global Order: Secara khusus, ia membahas tantangan, transisi, dan peran strategis middle powers dalam meredam ketegangan di Timur Tengah.

Sesi dilanjutkan dengan pembicara kedua, Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Umari, ulama perdamaian asal Yaman. Beliau menekankan bahwa konsolidasi antar-negara muslim merupakan kunci utama perdamaian dunia. "Perdamaian di Timur Tengah tidak bisa dicapai tanpa persatuan umat Islam, di tengah challenges and transitions tatanan global baru," ungkap Syeikh Ahmad, yang juga menghubungkan isu regional dengan peran middle powers.

Pembicara ketiga, H. AM. Mustain Nasoha, S.H., M.H., selaku Direktur PUSKOHIS, menutup sesi dengan analisis dimensi politik The Middle East and Emerging Global Order. Beliau membahas bagaimana transisi kekuasaan dan tantangan strategis memerlukan pendekatan hukum Islam yang adaptif.

Diskusi Dinamis dan Relevansi Bagi Indonesia

Seminar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tapi juga memicu diskusi panel yang hidup di antara peserta dari kalangan akademisi, pemerintah, dan mahasiswa. Topik utama seperti peran middle powers termasuk Indonesia dalam menyeimbangkan supremasi kekuatan besar menjadi sorotan utama. Acara dihadiri ratusan peserta secara langsung dan daring, mencerminkan antusiasme masyarakat akademik terhadap isu geopolitik kontemporer.

Kerjasama lintas lembaga ini menegaskan komitmen UIN Surakarta sebagai pusat studi Islam modern yang relevan dengan agenda nasional. Dengan dukungan Kementerian Luar Negeri, seminar diharapkan menjadi momentum bagi pembentukan kebijakan diplomasi yang lebih kuat di tengah gejolak global. (Suciyani/ smn)

 

Let’s join us!
Fakultas Unggul

_____

Find us:

 

#uinsurakarta
#fakultassyariahuinsurakarta
#fakultasunggul
#DariFASYAuntukBangsa
#ayoookuliahdifasyauinrmsaidsurakarta